Ambon, Gerbangmedia.id – Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Maluku, Ricky Dwi Biantoro, secara resmi menebarkan benih ikan lele sekaligus melakukan panen telur ayam kampung di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Ambon, Selasa (27/10/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan penilaian mendalam sekaligus arahan strategis terhadap berbagai program yang dikembangkan di bawah kepemimpinan Kepala Rutan Ambon, Meta Putra.
“Saat saya melangkah masuk ke lingkungan Rutan Ambon hari ini, saya jujur terkesan. Suasananya berbeda, aulanya pun tertata dengan sangat baik. Saya sempat berpikir, apakah saya salah tempat?” ungkap Ricky memulai arahannya.
Ia menegaskan, pencapaian dalam waktu yang sangat singkat ini sungguh luar biasa. “Hanya dalam dua bulan tujuh hari, Pak Karutan bersama seluruh jajaran telah menghadirkan perubahan yang nyata. Bukan hanya fisik bangunan yang diperbaiki, tetapi semangat kerjanya yang terasa berbeda. Itu hal yang patut kita apresiasi bersama,” ungkapnya.
Selain program ketahanan pangan yang menjadi fokus utama hari ini, Ricky juga mencatat berbagai capaian positif lainnya. Mulai dari inovasi layanan kesehatan keliling yang mendatangi warga binaan langsung ke kamar hunian, pembuatan kursi sofa tamu yang kini sudah menerima pesanan dari masyarakat sekitar, penanaman sayuran secara konvensional maupun hidroponik, hingga penguatan pembinaan kepribadian melalui kerja sama dengan Kementerian Agama untuk pembinaan rohani bagi warga binaan Muslim maupun Nasrani.
Menyoroti program budidaya ikan lele dan peternakan ayam kampung, Ricky menilai gagasan ini lahir dari kepekaan yang luar biasa.
“Pak Karutan jeli membaca situasi. Beliau melihat sendiri betapa sulitnya warga Ambon mendapatkan telur ayam kampung dan ikan lele di pasar. Dari keterbatasan itu, beliau berinovasi menjadikannya program unggulan dari dalam rutan. Itu langkah yang cerdas dan patut didukung,” jelasnya.
Sebanyak 7.000 ekor benih lele dikembangkan , 2.000 ekor di lingkungan rutan, dan 5.000 ekor lainnya melalui kemitraan bagi hasil dengan warga sekitar. Sementara peternakan ayam kampung yang saat ini berjumlah 70 ekor mampu menghasilkan sekitar 10 butir telur per hari, dengan target produksi mencapai 300 butir per periode panen ke depan.
Namun Ricky juga menyampaikan pesan yang tegas: “Jangan sampai kegiatan hari ini hanya berhenti pada seremoni. Jangan setelah kami semua pulang, benih yang ditebar tidak dirawat, ikannya mati, ayamnya mati, lalu selesai begitu saja. Itu yang saya tekankan , tidak boleh terjadi,” tegasnya.
Ia berharap ada perencanaan yang matang dan mekanisme yang jelas. “Sebagian hasil untuk memenuhi gizi warga binaan, sebagian dijual, keuntungannya diputar kembali untuk memperluas usaha. Telur dan lele dari sini harus mampu mensuplai kebutuhan unit pemasyarakatan lain di sekitar Ambon, bahkan bisa saja menjadi pasokan andalan bagi masyarakat luas. Harus ada pasar yang jelas, ada keberlanjutan, ada dampak yang terus tumbuh,” tandasnya
Poin yang paling diapresiasi Ricky adalah pola kemitraan bagi hasil yang melibatkan warga masyarakat sekitar.
“Biasanya UPT hanya fokus di dalam pagar. Hasil produksi hanya dikonsumsi di dalam, lalu selesai. Tapi Pak Karutan berpikir lebih jauh , bibit lele dibagikan ke warga yang punya lahan, hasilnya dibagi bersama. Rutan tidak menutup diri, manfaatnya keluar dan dirasakan masyarakat. Inilah ketahanan pangan yang sesungguhnya,” ujarnya dengan nada bangga.
Ia mengutip pesan inspiratif dari Nelson Mandela: “Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia.” Dalam konteks pemasyarakatan, Ricky menjelaskan, “Warga binaan tidak sekadar belajar memelihara ikan atau ayam. Mereka belajar disiplin, tanggung jawab, cara mengelola usaha, hingga menghitung keuntungan. Keterampilan inilah yang akan mereka bawa saat kembali ke masyarakat nanti. Jika mereka bisa mandiri, berarti kita benar-benar berhasil membina mereka,” tegasnya.
Untuk memastikan keberlanjutan program ini, Kanwil Ditjenpas Maluku sedang menyusun kerja sama strategis dengan berbagai pihak.
“Kamis besok, kita akan menandatangani Perjanjian Kerja Sama dengan Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Maluku, Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas, Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Maluku, Dinas Pertanian Provinsi Maluku, serta Fakultas Pertanian . Kita ingin program ini tidak berjalan sendiri, tetapi didukung ilmu pengetahuan, teknologi, dan pasar yang jelas,” ungkap Ricky.
Ia menutup dengan harapan agar semua pihak terus bekerja dengan hati, sebagaimana pesan Menteri Hukum dan HAM.
“Pembinaan kemandirian harus nyata, terukur, dan berkelanjutan. Mulainya boleh kecil, asalkan terus tumbuh, memberi manfaat bagi warga binaan, pegawai, dan masyarakat sekitar. Itulah keberhasilan sesungguhnya yang kita harapkan bersama,” pungkas Ricky. (GM-08)







