Ambon , Gerbangmedia.id – Di balik tembok Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Ambon, sedang tumbuh sebuah gerakan yang tak hanya memberi manfaat di dalam, tetapi juga menjangkau masyarakat luas.
Kepala Rutan Ambon, Meta Putra, secara resmi meluncurkan dua program unggulan sekaligus yakni budidaya ikan lele dan peternakan ayam kampung penghasil telur.
Sebanyak 7.000 ekor benih lele menjadi titik awal program ini — 2.000 ekor ditebarkan langsung di kolam lingkungan Rutan Ambon, sementara 5.000 ekor lainnya dikembangkan melalui kemitraan bagi hasil dengan warga sekitar yang memiliki lahan. Pola ini bukan sekadar memperluas jangkauan produksi, melainkan membangun jembatan manfaat antara institusi pemasyarakatan dan masyarakat di sekitarnya.
“Ini bukan sekadar kegiatan rutin. Sebagian hasil panen akan memenuhi kebutuhan pangan warga binaan, sebagian lainnya dijual dan keuntungannya dikembangkan lagi untuk program berikutnya. Sistem bagi hasil dengan warga sekitar juga memastikan kehadiran Rutan Ambon memberi dampak ekonomi nyata bagi lingkungannya,” ujar Meta Putra , Selasa (27/10/26).
Kemudian lanjut Meta , Inovasi yang tak kalah strategis juga , yang lahir dari pengamatan sederhana namun berarti , yakni sulitnya menemukan telur ayam kampung di pasar-pasar sekitar Ambon. Dari observasi itu lahir gagasan membangun peternakan ayam kampung di lingkungan rutan.
” Saat ini terdapat 70 ekor ayam kampung yang sedang dipelihara, dan secara konsisten mampu menghasilkan sekitar 10 butir telur setiap harinya. Seiring dengan pertumbuhan populasi ternak yang terus dikembangkan, Rutan Ambon menargetkan produksi dapat meningkat hingga 300 butir telur per periode panen,” ungkapnya.
Menurutnya , angka sederhana ini memiliki makna besar . bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan nutrisi warga binaan, tetapi juga menjawab kelangkaan pasokan telur ayam kampung yang selama ini dirasakan masyarakat.
“Nantinya hasil produksi tidak hanya untuk konsumsi internal. Kami ingin Rutan Ambon dikenal sebagai penghasil telur ayam kampung yang terpercaya, bahkan mampu mensuplai kebutuhan hingga ke wilayah Waeheru,” ungkap Meta.
Lanjunnya , selain ketahanan pangan, Rutan Ambon terus memperluas cakupan pembinaan kemandirian melalui berbagai program andalan lainnya:
🔹 Keterampilan Kerajinan — Pembuatan kursi sofa tamu yang kini sudah menerima pesanan dari masyarakat sekitar, membuktikan hasil karya warga binaan memiliki nilai jual dan kualitas yang layak.
🔹 Pertanian Terbatas — Penanaman sayuran secara konvensional maupun hidroponik, seperti pakcoy dan kangkung, membuktikan lahan sempit bukan halangan untuk berproduksi.
🔹 Layanan Kesehatan Proaktif — Inovasi program Canvassing , memastikan petugas kesehatan keliling mendatangi warga binaan langsung ke kamar hunian. Dilengkapi pula dengan Posyandu lansia dan layanan kesehatan gratis bagi pengunjung serta pegawai.
🔹 Pembinaan Kepribadian — Sinergi dengan Kementerian Agama memastikan warga binaan Muslim maupun Nasrani tetap mendapatkan pembinaan rohani secara terjadwal.
Ditegaskannya , lebih dari sekadar menghasilkan pangan, program-program ini membekali warga binaan dengan keterampilan nyata ,mulai dari beternak, bertani, berkarya, hingga menjaga kesehatan. Semua itu diharapkan menjadi bekal berharga saat mereka kembali ke tengah masyarakat.
Dari balik tembok, Rutan Ambon membuktikan: ketahanan pangan, keterampilan, dan harapan baru bisa dimulai dari mana saja. Bahkan dari tempat yang tak banyak orang sangka. (GM-08)







