Sopir Ojol Telat 5 Menit, Rumah ‘Mas Pelayaran’ Banjir Pesanan Palsu
Aksi arogansi seorang pria yang dikenal sebagai “Mas Pelayaran” berujung petaka. Setelah videonya viral karena memukul pelanggan ojek online karena keterlambatan lima menit, rumahnya kini dibanjiri pesanan fiktif sebagai bentuk protes dari warganet. Insiden ini menyoroti pentingnya pengendalian emosi dan dampak negatif dari perilaku arogan di era digital.
Rumah pria tersebut, yang berlokasi di Bantulan, Godean, Sleman, menjadi sasaran aksi protes daring. Kejadian ini menimbulkan kerugian tidak hanya bagi “Mas Pelayaran”, tetapi juga para kurir dan penjual online yang terlibat.
Banjir Pesanan Fiktif: Akibat Arogansi “Mas Pelayaran”
Sejak Senin, 7 Juli 2025, rumah TTW alias “Mas Pelayaran” dibanjiri berbagai pesanan dengan sistem COD (Cash On Delivery). Berbagai barang, mulai dari kaos hingga kulkas dua pintu, dikirimkan ke alamatnya.
Kurir dan penjual online mengaku kebingungan dengan lonjakan pesanan yang tak terduga ini. Akun media sosial @merapi_uncover melaporkan kejadian ini dengan keterangan “Breaking News 09:51, Imbas aksi viral ‘Mas Pelayaran’, banyak order fiktif masuk. Kurir dan seller jadi korban.”
Dampak Luas Aksi Protes Daring
Aksi protes ini bukan hanya menimbulkan kerugian materiil bagi “Mas Pelayaran”, tetapi juga berdampak pada pihak lain yang tidak terlibat langsung. Kurir dan penjual harus menanggung beban pengiriman dan pembatalan pesanan.
Situasi ini menggarisbawahi betapa luasnya jangkauan dan dampak dari aksi protes daring di era media sosial. Perilaku individual dapat memicu reaksi berantai yang merugikan banyak pihak.
Kronologi Penganiayaan dan Penangkapan Tersangka
Insiden ini bermula dari kemarahan TTW terhadap AML (22), kekasih seorang driver ojek online. Pesanan AML, yang tidak menggunakan fitur prioritas, terlambat lima menit.
TTW kemudian menganiaya AML dengan alasan ia bekerja di bidang pelayaran. AML melaporkan mengalami kekerasan fisik, termasuk diseret, dijambak, dan dilecehkan, hingga mengalami luka lecet.
- TTW ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penganiayaan.
- Dua orang lain, RHW (32) dan RTW (58), juga ditetapkan sebagai tersangka karena diduga terlibat.
Kejadian ini menjadi bukti nyata bahwa perilaku arogan dan kekerasan tidak akan ditoleransi. Proses hukum akan berjalan untuk memberikan keadilan bagi korban.
Reaksi Warganet dan Dampaknya terhadap “Mas Pelayaran”
Warganet ramai-ramai mengecam tindakan arogansi TTW. Banyak komentar sindiran dan kecaman bermunculan di media sosial.
Beberapa warganet menyoroti ketidaklayakan perilaku TTW, yang mengaku bekerja di bidang pelayaran namun bertindak tidak terpuji. Banyak yang mempertanyakan mengapa ia tidak memesan layanan prioritas jika terburu-buru.
Kini, selain berurusan dengan hukum, TTW juga harus menghadapi konsekuensi dari aksi protes daring yang membanjiri rumahnya dengan pesanan fiktif. Insiden ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya etika dan tanggung jawab dalam berinteraksi di masyarakat dan di dunia maya. Perilaku arogan tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak luas yang merugikan banyak pihak. Semoga kasus ini menjadi pembelajaran bagi semua pihak untuk lebih bijak dan bertanggung jawab dalam bersikap dan bertindak.



