Polri HUT ke-79 Bhayangkara: Refleksi Diri, Perbaikan Kinerja?
Peringatan Hari Bhayangkara ke-79, yang jatuh pada 1 Juli 2025, menjadi momen penting bagi Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Lebih dari sekadar seremoni tahunan, peringatan ini seharusnya menjadi refleksi mendalam terhadap kinerja institusi dan keselarasannya dengan cita-cita pendiri dan semangat reformasi 1998. Bambang Rukminto, peneliti dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), menekankan pentingnya evaluasi diri ini bagi masa depan Polri.
Polri, yang lahir dari rakyat, memiliki tugas utama menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Namun, perjalanan panjang institusi ini menunjukkan perlunya perbaikan berkelanjutan agar tetap relevan dan dipercaya. Peringatan HUT Bhayangkara seharusnya menjadi batu loncatan menuju transformasi yang signifikan.
Refleksi Kinerja Polri: Sejalan dengan Cita-Cita Pendiri?
Bambang Rukminto mengingatkan pentingnya meneladani figur-figur pendiri Polri seperti R.S. Soekanto dan Jenderal Hoegeng. Soekanto dikenal karena mampu menjaga jarak dari kepentingan politik, sementara Hoegeng dikenal akan integritasnya yang tinggi.
Bagaimana kinerja Polri saat ini berbanding dengan teladan para pendiri tersebut? Pertanyaan ini menjadi inti dari refleksi yang perlu dilakukan. Apakah Polri sudah sepenuhnya berada di jalur yang selaras dengan visi pendiri dan semangat reformasi 1998?
Tiga Aspek Krusial yang Membutuhkan Perbaikan
Bambang mengidentifikasi tiga aspek krusial yang perlu diperbaiki Polri: instrumen, struktur, dan kultur. Ketiga aspek ini saling berkaitan dan mempengaruhi efektivitas kinerja Polri secara keseluruhan.
Instrumen yang Belum Berpihak pada Masyarakat
Instrumen pelayanan Polri masih dinilai belum sepenuhnya berpihak pada masyarakat. Hal ini membutuhkan perbaikan yang komprehensif agar pelayanan menjadi lebih efektif dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Struktur Organisasi yang Elitis dan Rentan Politik
Struktur organisasi Polri yang elitis membuat institusi ini rentan terpengaruh oleh kepentingan politik. Struktur yang lebih datar dan transparan diperlukan untuk mencegah interferensi politik dan menjaga independensi Polri.
Kultur Internal yang Jauh dari Meritokrasi dan Profesionalisme
Kultur internal Polri masih jauh dari prinsip meritokrasi dan profesionalisme. Hal ini mengakibatkan terhambatnya promosi berdasarkan prestasi dan kualitas, serta menurunnya kinerja secara keseluruhan. Perbaikan kultur internal sangat penting untuk meningkatkan kualitas SDM Polri.
Menuju Polri yang Lebih Baik: Transformasi untuk Masa Depan
Tema HUT Bhayangkara tahun ini, “Polri untuk Masyarakat,” harus diwujudkan dalam strategi dan kebijakan nyata. Bukan hanya slogan, tetapi perubahan konkret yang dapat dirasakan masyarakat.
Perbaikan instrumen pelayanan masyarakat, restrukturisasi organisasi yang lebih independen, dan pembangunan kultur yang profesional dan berintegritas adalah kunci sukses transformasi Polri. Evaluasi menyeluruh sangat dibutuhkan untuk memastikan Polri kembali pada jalur yang sesuai dengan cita-cita awal pendiriannya.
Puncak peringatan HUT Bhayangkara ke-79 akan dirayakan pada 1 Juli 2025 di Monas, Jakarta Pusat. Presiden Prabowo Subianto akan bertindak sebagai inspektur upacara. Berbagai kegiatan telah disiapkan untuk menandai peristiwa ini. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menekankan pentingnya keterlibatan publik dalam peringatan ini.
Melalui refleksi mendalam dan langkah-langkah konkret, Polri dapat menjadi institusi yang benar-benar melayani dan melindungi rakyat, membangun kepercayaan publik, dan memperkuat kualitas keamanan di Indonesia. Peringatan HUT Bhayangkara bukan sekedar seremoni, tetapi momentum untuk membangun masa depan Polri yang lebih baik.



